Pages

Jumat, 22 Juli 2011

Nada

Baguslah, aku tidak terlambat masuk kelas hari ini. Pelajaran pagi ini mengalir seperti air, sangat cepat, begitu cepat hingga tak terasa pukul sembilan lebih tigapuluh menit. Aku keluar dan menghirup udara segar, ah, meletakan pikiran sejenak, kemudian ku berjalan mengitari sekolah, setiap lorong dan setiap sudut aku lalui. Ya, inilah kebiasaan anehku, saat sedang berjalan terlihat olehku sepasang anak manusia sedang berduaan memadu kasih, hem, si anak baru itu teryata sudah laku disini, cepatnya, pikirku. Tiba – tiba saja sekelompok berandal sekolah ini datang menghampiri mereka berdua, seperti biasa, anak – anak tanpa kerjaan tetap ini menganggu mereka berdua, si laki – laki mencoba melawan, dan si perempuan mencoba menarik laki – laki nekat ini keluar dari situasi yang tidak menyenangkan ini.

Aku hanya berdiri dan menyasikan drama kolosal ini, sedikit bersandar dan merenggangkan badan agar nyaman menonton. Adegan perkelahian itu pun mulai, hem, berat sebelah, tiga orang melawan satu, hem, ya sudahlah hitung – hitung olahraga dan beramal, aku bantu laki – laki malang itu.
‘Nad, ngapain loe kesini? Mau bantuin anak bego ini?.” Bentak Andy, si pemimpin gang yang badanya paling besar dan paling subur.
“ya iyalah, sekarang dua lawan tiga... menang mana? Ayo dibuktiin..!!.” tantangku sambil ambil posisi PW.

“gak perlu, gue gak perlu di bantu, gue bisa sendiri ngadepin cecunguk cecunguk ini, lu pergi sanah, daripada lu babak belur.” Teriak laki – laki nekat ini.
“ah, gapapa. Itung itung olahraga pagi.” Jawabku santai

Belum berapa kalimat, Andy dan kawan kawan menyerang kami berdua, dengan sedikit kewalahan ku ladeni mereka, satu hook dua jab, tiga tendangan sudah cukup membuat kami semua babak belur, si gadis hanya berteriak – teriak saja dan menanggis, sangat menganggu. Setelah hampir lima menit kami berkelahi, pak Akbar datang bersama beberapa security sekolah.
“Lagi – lagi kamu Nad, An, udah bapak bilangin jangan berantem, kamu juga Sam, anak baru bikin rusuh aja, ayo sini, ke ruang kepala sekolah ! “ bentak pak Akbar yang menyuruh security – security besar ini menggelandang kami semua ke kantor kepala sekolah.

Dan, akhirnya sampailah kami ke ruang kepala sekolah, selama tigapuluh menit kami mendengarkan ocehan pak Santo yang sangat panjang lebar dan memuakan, ah, aku ingin keluar saja. Setelah selesai dengan kuliah pagi pak Santo, kami keluar, Andy dan gangnya mengancam aku dan si anak baru, aku sih biasa saja, tapi si anak baru ini sepertinya tidak terima, kami lagi – lagi harus berdua karena pak Akbar si guru BK menyuruh kami ke UKS untuk membersihkan luka – luka bekas perkelahian tadi.
“Napa lu bantuin gue? Bukanya kita gak kenal.... napa?” tanya si anak baru itu sambil dibersihkan lukanya oleh pacar setianya.
“kagak napa napa, cuma iseng aja. Hahahaha ! “ jawabku ngaco sambil tiduran diatas kasur UKS.
Anak baru ini sepertinya masih penuh amarah, yah begitulah, setelah ku selesai membersihkan diri, aku kembali ke kelas dan mendapati kelas yang sudah tertata rapi karena pak Kholis sudah masuk dan mulai memberikan pelajaran. Jam menujukan angka dua siang dan bel pun berbunyi tanda pulang sekolah, saat melewati parkiran terlihat lagi olehku si anak baru itu, dia memandangiku dengan tanya, aku cuek saja. Sesampainya beberapa blok dari sekolah, lagi – lagi kepalaku sedikit pening, yah, pening, pusing, jika dia muncul. Ya Dia, Dia siapa?